Tampilkan postingan dengan label contoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label contoh. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Januari 2014

Download Contoh Cover Novel


Info Desain Contoh Cover Novel

  • Software Pembuat : Corel Draw 12 atau X2 
  • Platform : Microsoft Windows 
  • Jenis : Desain Cover Buku Novel 
  • Format File : cdr & dotx (Ms.Word)

  • Filosofi : 
 1.cover buku berjudul "everything will be oke" merupakan sebuah judul novel yang menceritakan seorang cewek yang selalu memperjuangkan cintanya meskipun hal yang diperjuangkan sangat menyakitinya

2.gambar ilustrasi cewek menggambarkan seorang cewek yang tegar dan mencoba menganggap segalanya akan baik-baik saja

3.gambar awan dengan warna putih kelabu menggambar isi hati/perasaan cewek yang sebenarnya sedang tidak baik.

4.gambar langit berwarna biru yang membentang luas diatasnya menggambarkan perjuangan cewek itu yang begitu besar 
Read More..

Rabu, 18 Desember 2013

Contoh Bisnis Sampingan Karyawan yang Menguntungkan

Contoh Bisnis Sampingan Karyawan yang Menguntungkan.

Apakah anda seorang karyawan? Apakah pendapatan anda dari berkerja sudah lebih dari cukup atau masih sangat kurang? Adakah keinginan untuk menjalankan suatu bisnis supaya pendapatan bisa semakin bertambah? Bila memang ada keinginan untuk berbisnis, tentunya anda berharap mempunyai bisnis yang tidak mengganggu pekerjaan anda sekarang bukan! Nah untuk itu berikut ada beberapa bisnis yang siapa tahu dapat anda jalankan, tanpa takut pekerjaan anda sebagai karyawan terganggu.

Menyewakan Playstation, nah bila anda juga termasuk salah seorang karyawan yang hobi bermain playstation. Anda dapat berbisnis sewa playstation, jadi anda tidak harus membuka rental. Karena bila membuka rental tentu harus ada yang menunggui bukan. Tetapi bila menyewakan kita tidak perlu menunggui karena biasanya orang yang menyewa itu mulai jam 6 pagi sampai 6 sore atau jam 6 sore sampai jam 6 pagi. Sehingga waktu kita bekerja sebagai karyawan tidak terganggu. Terlebih lagi waktu istirahat sepulang bekerja masih tetap bisa untuk bersantai-santai dengan keluarga.
Jika biaya sewa 12jam (6 pagi – 6 sore / 6 sore – 6 pagi) = 15 ribu.

Maka untuk keuntungan dari bisnis ini yaitu bila mempunyai 2 buah Playstation. Dan jika 2 buah playstation tersebut disewa semua dalam sehari. 60 ribu bisa masuk dikantong, untuk yang 30% atau 20 ribu bisa dibuat jaga-jaga bila nantinya ada kerusakan, terlebih lagi kerusakan pada stick. Untuk yang 60% atau 40 ribu dapat dinikmati.

Bisnis Online, adalah usaha sampingan untuk karyawan selain menyewakan playstation. Bisnis online merupakan salah satu bisnis yang juga lumayan menguntungkan. Karena untuk menjalankan bisnis ini, sangatlah mudah yaitu yang terpenting memiliki komputer atau laptop serta koneksi internet. Serta dalam menjalankannya dapat dijalankan dimana saja dan kapan saja sehingga tidak terikat waktu dan tempat.

Semoga 2 buah contoh usaha atau bisnis yang dapat dijadikan sampingan oleh karyawan diatas dapat bermanfaat. Dan jika memang salah satu dari dua bisnis diatas ada yang dijalankan. Mudah-mudahan bisnisnya lancar, pendapatan semakin bertambah dan jangan lupa sedekah supaya rizki semakin berkah.

Read More..

Senin, 11 November 2013

Contoh Cerpen Singkat Persahabatan

Contoh Cerpen Singkat - Cerita Pendek atau yang sering disingkat dengan cerpen adalah suatu bentuk prosa naratif fiktif, berisi cerita yang lebih padat dan langsung pada tujuan. Cerita pendek sendiri berasal dari anekdot, yaitu sebuah situasi yang digambarkan secara singkat dan cepat tiba pada tujuannya.

cerpen persahabatan singkat



Contoh Cerpen Singkat Persahabatan


“Amanda, Amanda, tunggu aku sebentar”.
Sekolah baru saja usai, Amanda sedang berjalan pulang ketika mendengar suara seseorang memanggilnya. Dia menoleh ke belakang. Terlihat Nisa berlari mengejarnya dengan tergopoh-gopoh.
“Ada apa Nisa?”, tanya Amanda keheranan.

“Begini, aku mau mengembalikan ini”, kata Nisa sambil mengangsurkan sebuah tas plastik kepada Amanda.
Amanda, melihat isi tas plastik tersebut, lalu bertanya, “Lho, kenapa dikembalikan, kamu tidak suka sepatu ini ya?”
“Tidak, ee..., maksudku, aku suka sepatu itu.”

“Lantas mengapa sepatu ini kamu kembalikan kepadaku, apakah kamu tidak memerlukannya?”, tanya Amanda menyelidik.
“Sebenarnya aku sangat memerlukan sepatu itu, tapi....”, suara Nisa terhenti, dia ragu-ragu untuk meneruskannya.
“Tapi apa Nisa?”, tanya Amanda lagi.

Nisa teringat dengan kejadian kemarin. Ketika itu, dia baru saja pulang dari sekolah. Saat masuk rumah, segera ditemuinya Ibunya yang sedang memasak di dapur.

“Bu…Bu… lihat”, katanya sambil berjingkat-jingkat penuh kegirangan.
Ibunya menengok sebentar ke arah Nisa, kemudian kembali sibuk mengaduk-aduk masakannya di panci, “Lihat apanya?”
“Lihat ini dong Bu, bagus sekali kan”, kata Nisa sambil mengangkat kaki kirinya, menunjukkan sepatu baru yang sedang dipakainya.

Ibunya menengok sekali lagi sambil berkata, “Iya, bagus sekali sepatu yang kau pakai. Omong-omong, sepatu itu pinjam dari siapa?”

“Ah Ibu, ini sepatu milikku”, kata Nisa dengan nada gembira.
“O begitu. Lho, jadi kamu sudah membuka tabunganmu ya. Memangnya sudah terkumpul banyak uang tabunganmu?”, tanya ibunya.
“Tidak, uang tabunganku masih utuh di dalam celengan. Sepatu ini aku dapat dari Amanda. Dia yang memberikannya untukku”
“Ah masak sih, kok bisa begitu?”, tanya ibunya tidak percaya. “Ingat, kamu jangan suka meminta-minta lho pada teman-temanmu”, lanjutnya.

“Tentu tidak dong Bu”, sergah Nisa, “ceritanya begini: kebetulan Amanda membeli sepatu baru minggu lalu, tapi ternyata sepatu itu kebesaran sedikit. Karena itu Amanda menawarkannya kepadaku. Lantas aku coba, kok pas sekali untukku. Lalu Amanda memberikannya untukku”.

“Wah beruntung sekali kamu Nisa. Apakah ayah dan ibu Amanda mengetahuinya?”, tanya ibu Nisa.
“Tentu saja Bu. Mana berani Amanda memberikannya tanpa sepengetahuan orang tuanya. Mereka baik sekali ya Bu”, kata Nisa.
“Iya. Tapi aku yakin Bapakmu tidak akan suka”, kata ibu Nisa sambil tetap memasak.
“Tidak mungkin dong Bu”, kata Amanda yakin, “Bapak pasti juga akan gembira”.
“Tunggu saja kalau Bapak pulang nanti”, wanti-wanti ibunya.

Benar. Ketika ayahnya pulang ke rumah setelah seharian mengemudi becak, Nisa langsung menyambutnya dengan memamerkan sepatu barunya. Tapi jawaban ayahnya seperti perkiraan ibunya tadi.

“Apa? Kau diberi sesuatu lagi oleh temanmu. Cepat kembalikan. Kita sudah menerima pemberian terlalu banyak dari mereka Nisa. Dulu tas dan peralatan tulis-menulis. Bulan lalu seragammu juga diberi oleh ayah Amanda serta uang sekolahmu dilunasinya ketika Bapak tidak punya uang. Sudah tidak terhitung lagi pemberian mereka kepada kita”
“Tapi Pak, Amanda memberikannya dengan ikhlas kepadaku”, kata Nisa membela diri.

“Betul. Bapak tidak menyangkal ketulusan hati mereka. Tapi ini sudah terlalu banyak. Mereka selalu membantu kita, tapi apa yang bisa kita berikan kepada mereka? Tidak ada”, kata ayah Nisa dengan sedih.

“Mereka tidak mengharapkan balasan dari kita Pak”, kata Nisa mencoba meyakinkan ayahnya.
“Tidak. Pokoknya sepatu tersebut harus dikembalikan segera”, jawab ayah Nisa dengan tegas. “Dan jangan menerima lagi pemberian mereka. Keluarga Pak Ahmad memang baik sekali, tetapi kita tidak bisa terus-menerus menerima bantuan dari mereka tanpa kita bisa membalasnya. Apa yang bisa kita berikan kepada mereka, mereka itu kaya sekali dan tidak memerlukan sesuatu dari kita yang miskin ini”.

“Tapi Pak…”, Nisa mencoba menawar.
“Tidak ada tetapi, ini sudah menjadi keputusan Bapak. Sepatu itu sudah harus dikembalikan besok”.
“Ya Pak’, kata Nisa menyerah.

Amanda memandang wajah Nisa yang sedih ketika menceritakan alasannya mengembalikan sepatu pemberiannya tersebut.
“Ya sudah, nggak usah sedih. Bagaimana kalau sepatu ini tetap kamu simpan saja, tidak usah bilang ayahmu”, kata Amanda menghibur.

“Tidak bisa. Aku sudah janji pada Bapak untuk mengembalikan sepatu ini”, kata Nisa.
“OK. Aku simpankan dulu ya sepatu ini, nanti jika ayahmu sudah tidak marah lagi, kamu boleh mengambilnya lagi”
“Baiklah Amanda, kamu baik sekali. Kamu memang sahabatku yang sejati”, kata Nisa sambil memeluk sahabat karibnya itu.

Keesokan harinya, Amanda tidak masuk sekolah. Nisa mencari-cari ke manapun di sekolah tapi Nisa tetap tidak tampak juga. Pada jam pelajaran ketiga Pak Guru memberi pengumuman kepada murid-murid sekelas Nisa:
“Anak-anak, ada kabar buruk. Pak Ahmad, ayah Amanda mengalami kecelakaan mobil pagi tadi. Beliau terluka parah dan sekarang berada di rumah sakit memerlukan darah yang cukup banyak. Bapak akan segera meminta guru-guru untuk mendonorkan darah bagi Pak Ahmad. Kalian dibolehkan pulang lebih awal.”

Anak-anak segera berebut keluar kelas untuk pulang. Nisa juga segera keluar ruangan dan berlari menuju ke tempat ayahnya biasa mangkal. Terlihat ayahnya masih duduk di atas becaknya menunggu calon penumpang. Nisa bergegas menemuinya dan menceritakan pengumuman Pak Guru tadi.

Mereka berdua segera menuju ke rumah sakit dan menuju ke ruang gawat darurat di mana ayah Amanda dirawat. Setelah ayah Nisa menjelaskan maksud kedatangannya, seorang kerabat Pak Ahmad menunjukkan jalan ke ruang PMI untuk donor darah. Setelah darahnya diambil, terlihat para guru sekolah Amanda berdatangan dan sebagian mendonorkan darahnya. Berkat sumbangan darah dari ayah Nisa dan para guru, kondisi Pak Ahmad segera membaik.

“Terima kasih banyak, Pak Arif”, kata Pak Ahmad pada saat menengok Pak Ahmad di rumah sakit. “Berkat bantuan Pak Arif, saya bisa pulih kembali seperti sediakala”.

“Ah tidak Pak, itu memang sudah kewajiban saya untuk membantu sesama. Apalagi kan selama ini keluarga Pak Ahmad sudah sangat sering membantu kami, tanpa kami mampu membalasnya”, kata ayah Nisa.

“Pak Arif tidak perlu memikirkan untuk membalasnya. Kami melakukan semuanya selama ini dengan ikhlas. Nisa kan teman Amanda yang paling akrab dan sering membantu Amanda dalam belajar dan mengerjakan tugas-tugasnya. Saya kira itu sudah cukup. Karena itu terima kasih Pak Arif telah menyelamatkan nyawa saya”, kata ayah Amanda sambil tersenyum.

“Sama-sama Pak, kami juga mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan yang tak terhitungkan selama ini”, kata Pak Arif.
Nisa dan Amanda saling berpandangan dengan gembira mendengar percakapan kedua orang tua mereka.

“Kalau begitu, boleh kan saya memberikan sepatu saya kepada Nisa”, tanya Amanda.
“Tentu saja, tentu saja Amanda. Begitu kan Pak Arif. Ini sebagai ungkapan terima kasih kami”, kata ayah Amanda cepat-cepat.
“Baiklah”, jawab ayah Nisa tidak mampu menolaknya.

“Horeeeeeeeeee”, teriak Amanda dan Nisa bersama-sama sambil melompat-lompat gembira.
“Ha….ha….ha….”, ayah ibu Amanda dan Nisa tertawa berderai melihat kelakuan kedua anak itu.

Read More..